Antarmuka
pengguna Android didasarkan pada manipulasi langsung, menggunakan masukan
sentuh yang serupa dengan tindakan di dunia nyata, seperti menggesek, mengetuk,
mencubit, dan membalikkan cubitan untuk memanipulasi obyek di layar. Android
adalah sistem operasi dengan
sumber terbuka, dan Google merilis kodenya di
bawah
Lisensi
Apache. Kode dengan sumber terbuka
dan lisensi perizinan pada Android memungkinkan perangkat lunak untuk
dimodifikasi secara bebas dan didistribusikan oleh para pembuat perangkat,
operator nirkabel, dan pengembang aplikasi. Selain itu, Android memiliki
sejumlah besar komunitas pengembang aplikasi (
apps) yang memperluas
fungsionalitas perangkat, umumnya ditulis dalam versi kustomisasi bahasa
pemrograman
Java. Pada bulan Oktober 2012, ada sekitar 700.000
aplikasi yang tersedia untuk Android, dan sekitar 25 juta aplikasi telah diunduh
dari
Google Play, toko
aplikasi utama Android. Sebuah survey pada bulan
April-Mei 2013 menemukan bahwa Android adalah platform paling populer bagi para
pengembang, digunakan oleh 71% pengembang aplikasi seluler.
Faktor-faktor di atas telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan
Android, menjadikannya sebagai sistem operasi telepon pintar yang paling banyak
digunakan di dunia,
mengalahkan
Symbian pada tahun
2010. Android juga menjadi pilihan bagi perusahaan
teknologi yang menginginkan sistem operasi berbiaya rendah, bisa dikustomisasi,
dan ringan untuk perangkat berteknologi tinggi tanpa harus mengembangkannya dari
awal. Akibatnya, meskipun pada awalnya sistem operasi ini dirancang khusus untuk
telepon pintar dan tablet, Android juga dikembangkan menjadi aplikasi tambahan
di televisi,
konsol permainan,
kamera digital, dan perangkat elektronik
lainnya. Sifat Android yang terbuka telah mendorong munculnya sejumlah besar
komunitas pengembang aplikasi untuk menggunakan kode sumber terbuka sebagai
dasar proyek pembuatan aplikasi, dengan menambahkan fitur-fitur baru bagi
pengguna tingkat lanjut atau mengoperasikan Android pada perangkat yang secara
resmi dirilis dengan menggunakan sistem operasi lain.
Pada November 2013, Android menguasai pangsa pasar telepon pintar global,
yang dipimpin oleh produk-produk
Samsung, dengan persentase 64% pada bulan Maret
2013. Pada Juli 2013, terdapat 11.868 perangkat Android berbeda dengan beragam
versi. Keberhasilan sistem operasi ini juga
menjadikannya sebagai target ligitasi paten "
perang telepon pintar" antar
perusahaan-perusahaan teknologi. Hingga bulan Mei 2013, total 900
juta perangkat Android telah diaktifkan di seluruh dunia, dan 48 miliar aplikasi
telah dipasang dari Google Play. Pada tanggal 3 September 2013, 1 miliar
perangkat Android telah diaktifkan.
Sejarah
Android, Inc. didirikan di
Palo Alto, California, pada bulan Oktober
2003 oleh
Andy Rubin (pendiri
Danger),
Rich Miner (pendiri Wildfire Communications,
Inc.), Nick Sears (mantan VP
T-Mobile), dan Chris White (kepala desain dan
pengembangan antarmuka
WebTV) untuk mengembangkan "perangkat
seluler pintar yang lebih sadar akan lokasi dan preferensi penggunanya". Tujuan awal pengembangan Android
adalah untuk mengembangkan sebuah sistem operasi canggih yang diperuntukkan bagi
kamera digital, namun
kemudian disadari bahwa pasar untuk perangkat tersebut tidak cukup besar, dan
pengembangan Android lalu dialihkan bagi pasar telepon pintar untuk menyaingi
Symbian dan
Windows Mobile (
iPhone Apple belum dirilis pada saat
itu).
Meskipun para pengembang Android adalah
pakar-pakar teknologi yang berpengalaman, Android Inc. dioperasikan secara
diam-diam, hanya diungkapkan bahwa para pengembang sedang menciptakan sebuah
perangkat lunak yang diperuntukkan bagi telepon seluler. Masih pada tahun yang sama, Rubin
kehabisan uang.
Steve
Perlman, seorang teman dekat Rubin, meminjaminya $10.000 tunai dan menolak
tawaran saham di perusahaan.
Google mengakuisisi Android Inc. pada
tanggal 17 Agustus 2005, menjadikannya sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya
dimiliki oleh Google. Pendiri Android Inc. seperti Rubin, Miner dan White tetap
bekerja di perusahaan setelah diakuisisi oleh Google. Setelah itu, tidak banyak yang
diketahui tentang perkembangan Android Inc., namun banyak anggapan yang
menyatakan bahwa Google berencana untuk memasuki pasar telepon seluler dengan
tindakannya ini. Di Google, tim yang dipimpin oleh
Rubin mulai mengembangkan platform perangkat seluler dengan menggunakan
kernel
Linux. Google memasarkan platform tersebut kepada produsen perangkat seluler
dan
operator nirkabel, dengan janji bahwa
mereka menyediakan sistem yang fleksibel dan bisa diperbarui. Google telah
memilih beberapa mitra perusahaan perangkat lunak dan perangkat keras, serta
mengisyaratkan kepada operator seluler bahwa kerjasama ini terbuka bagi siapapun
yang ingin berpartisipasi.
Spekulasi tentang niat Google untuk memasuki pasar komunikasi seluler terus
berkembang hingga bulan Desember 2006.
[38] BBC
dan
Wall Street Journal melaporkan bahwa
Google sedang bekerja keras untuk menyertakan aplikasi dan
mesin pencarinya di
perangkat seluler. Berbagai media cetak dan media daring mengabarkan bahwa
Google sedang mengembangkan perangkat seluler dengan merek Google. Beberapa di
antaranya berspekulasi bahwa Google telah menentukan spesifikasi teknisnya,
termasuk produsen telepon seluler dan operator jaringan. Pada bulan Desember
2007,
InformationWeek melaporkan bahwa Google
telah mengajukan beberapa aplikasi paten di bidang telepon seluler.
[39][40]
Pada tanggal 5 November 2007,
Open Handset Alliance (OHA) didirikan.
OHA adalah
konsorsium dari
perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, produsen perangkat seluler
seperti
HTC,
Sony dan
Samsung, operator nirkabel seperti
Sprint Nextel dan
T-Mobile, serta produsen chipset
seperti
Qualcomm dan
Texas Instruments.
OHA sendiri bertujuan untuk mengembangkan
standar terbuka bagi perangkat seluler.
[13] Saat itu, Android
diresmikan sebagai produk pertamanya; sebuah
platform perangkat seluler yang menggunakan
kernel
Linux versi 2.6.
[13] Telepon seluler
komersial pertama yang menggunakan sistem operasi Android adalah
HTC Dream, yang diluncurkan pada 22
Oktober 2008.
[41]
Pada tahun 2010, Google merilis seri
Nexus; perangkat telepon pintar dan tablet dengan
sistem operasi Android yang diproduksi oleh mitra produsen telepon seluler
seperti HTC,
LG, dan Samsung.
HTC bekerjasama dengan Google dalam merilis produk telepon pintar Nexus pertama,
yakni
Nexus One.
[42] Seri ini telah diperbarui dengan perangkat
yang lebih baru, misalnya telepon pintar
Nexus 4 dan tablet
Nexus 10 yang diproduksi oleh LG dan Samsung.
[43] Pada 15 Oktober 2014, Google
mengumumkan Nexus 6 dan Nexus 9 yang diproduksi oleh Motorola dan HTC.
[44] Pada 13 Maret 2013,
Larry Page mengumumkan dalam postingan blognya bahwa
Andy Rubin telah pindah dari divisi Android untuk mengerjakan proyek-proyek baru
di Google.
[45] Ia
digantikan oleh
Sundar
Pichai, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala divisi Google Chrome, yang
mengembangkan
Chrome OS.
[43]
Sejak tahun 2008, Android secara bertahap telah melakukan
sejumlah
pembaruan untuk meningkatkan kinerja sistem operasi, menambahkan fitur baru,
dan memperbaiki
bug yang
terdapat pada versi sebelumnya. Setiap versi utama yang dirilis dinamakan secara
alfabetis berdasarkan nama-nama makanan pencuci mulut atau cemilan bergula;
misalnya, versi 1.5 bernama
Cupcake, yang kemudian diikuti oleh versi 1.6
Donut. Versi terbaru adalah 5.0
Lollipop, yang dirilis pada 15
Oktober 2014.
[46]
Layar notifikasi
pada ponsel Android yang diakses dengan menggeser dari bagian atas
layar.
Antarmuka pengguna pada Android didasarkan pada
manipulasi langsung,
[47] menggunakan masukan sentuh yang serupa
dengan tindakan di dunia nyata, misalnya menggesek (
swiping), mengetuk
(
tapping), dan mencubit (
pinching), untuk memanipulasi obyek di
layar.
[47]
Masukan pengguna direspon dengan cepat dan juga tersedia antarmuka sentuh
layaknya permukaan air, seringkali menggunakan kemampuan getaran perangkat untuk
memberikan
umpan balik haptik kepada pengguna.
Perangkat keras
internal seperti
akselerometer,
giroskop, dan
sensor proksimitas digunakan oleh beberapa
aplikasi untuk merespon tindakan pengguna, misalnya untuk menyesuaikan posisi
layar dari potret ke lanskap, tergantung pada bagaimana perangkat diposisikan,
atau memungkinkan pengguna untuk mengarahkan kendaraan saat bermain balapan
dengan memutar perangkat sebagai simulasi kendali setir.
[48]
Ketika dihidupkan, perangkat Android akan memuat pada layar depan
(
homescreen), yakni navigasi utama dan pusat informasi pada perangkat,
serupa dengan
desktop pada
komputer pribadi. Layar depan Android biasanya
terdiri dari ikon
aplikasi dan
widget;
ikon aplikasi berfungsi untuk menjalankan aplikasi terkait, sedangkan widget
menampilkan konten secara langsung dan terbarui otomatis, misalnya prakiraan
cuaca, kotak masuk
surel
pengguna, atau menampilkan tiker berita secara langsung dari layar depan.
[49] Layar depan bisa terdiri dari beberapa
halaman, pengguna dapat menggeser bolak balik antara satu halaman ke halaman
lainnya, yang memungkinkan pengguna Android untuk mengatur tampilan perangkat
sesuai dengan selera mereka. Beberapa aplikasi pihak ketiga yang tersedia di
Google Play dan di toko
aplikasi lainnya secara ekstensif mampu mengatur kembali tema layar depan
Android, dan bahkan bisa meniru tampilan sistem operasi lain, misalnya
Windows Phone.
[50] Kebanyakan produsen telepon seluler dan
operator nirkabel menyesuaikan tampilan perangkat Android buatan mereka untuk
membedakannya dari pesaing mereka.
[51]
Di bagian atas layar terdapat status bar, yang menampilkan informasi tentang
perangkat dan konektivitasnya. Status bar ini bisa "ditarik" ke bawah untuk
membuka layar notifikasi yang menampilkan informasi penting atau pembaruan
aplikasi, misalnya surel diterima atau SMS masuk, dengan cara tidak mengganggu
kegiatan pengguna pada perangkat.
[52] Pada versi awal Android, layar
notifikasi ini bisa digunakan untuk membuka aplikasi yang relevan, namun setelah
diperbarui, fungsi ini semakin disempurnakan, misalnya kemampuan untuk memanggil
kembali nomor telepon dari notifikasi panggilan tak terjawab tanpa harus membuka
aplikasi utama.
[53] Notifikasi ini akan tetap ada
sampai pengguna melihatnya, atau dihapus dan di nonaktifkan oleh pengguna.
Android memungkinkan penggunanya untuk memasang aplikasi pihak ketiga, baik
yang diperoleh dari toko aplikasi seperti
Google Play,
Amazon Appstore, ataupun dengan mengunduh dan
memasang berkas
APK dari situs pihak ketiga.
[54] Di Google Play,
pengguna bisa menjelajah, mengunduh, dan memperbarui aplikasi yang diterbitkan
oleh Google dan pengembang pihak ketiga, sesuai dengan persyaratan
kompatibilitas Google.
[55] Google
Play akan menyaring daftar aplikasi yang tersedia berdasarkan kompatibilitasnya
dengan perangkat pengguna, dan pengembang dapat membatasi aplikasi ciptaan
mereka bagi operator atau negara tertentu untuk alasan bisnis.
[56] Pembelian aplikasi yang tidak sesuai dengan
keinginan pengguna dapat dikembalikan dalam waktu 15 menit setelah
pengunduhan.
[57] Beberapa
operator seluler juga menawarkan tagihan langsung untuk pembelian aplikasi di
Google Play dengan cara menambahkan harga pembelian aplikasi pada tagihan
bulanan pengguna.
[58] Pada
bulan September 2012, ada lebih dari 675.000 aplikasi yang tersedia untuk
Android, dan perkiraan jumlah aplikasi yang diunduh dari Play Store adalah 25
miliar.
[59]
Aplikasi Android dikembangkan dalam bahasa pemrograman
Java dengan menggunakan kit
pengembangan perangkat lunak
Android (SDK). SDK ini terdiri dari seperangkat perkakas pengembangan,
[60] termasuk
debugger,
perpustakaan perangkat lunak,
emulator handset yang berbasis
QEMU,
dokumentasi, kode sampel, dan tutorial. Didukung secara resmi oleh
lingkungan pengembangan terpadu
(IDE)
Eclipse, yang menggunakan plugin
Android Development Tools (ADT). Perkakas pengembangan lain yang tersedia di
antaranya adalah
Native Development Kit untuk aplikasi
atau ekstensi dalam C atau C++,
Google App Inventor, lingkungan visual
untuk pemrogram pemula, dan berbagai kerangka kerja aplikasi web seluler lintas
platform.
Dalam rangka menghadapi
penyensoran
Internet di Republik Rakyat Tiongkok, perangkat Android yang dijual di RRT
umumnya disesuaikan dengan layanan yang disetujui oleh negara.
[61]
Karena perangkat Android umumnya bertenaga
baterai, Android dirancang untuk mengelola memori (
RAM) guna menjaga konsumsi daya
minimal, berbeda dengan sistem operasi desktop yang bisa terhubung pada sumber
daya
listrik tak terbatas. Ketika
sebuah aplikasi Android tidak lagi digunakan, sistem secara otomatis akan
menangguhkannya (
suspend) dalam memori – secara teknis aplikasi tersebut
masih "terbuka", namun dengan ditangguhkan, aplikasi tidak akan mengkonsumsi
sumber daya (misalnya daya baterai atau daya pemrosesan), dan akan "diam" di
latar belakang hingga aplikasi tersebut digunakan kembali. Cara ini memiliki
manfaat ganda, tidak hanya meningkatkan respon perangkat Android karena aplikasi
tidak perlu ditutup dan dibuka kembali dari awal setiap saat, tetapi juga
memastikan bahwa aplikasi yang berjalan di latar belakang tidak menghabiskan
daya secara sia-sia.
[62]
Android mengelola aplikasi yang tersimpan di memori secara otomatis: ketika
memori lemah, sistem akan menonaktifkan aplikasi dan proses yang tidak aktif
untuk sementara waktu, aplikasi akan dinonaktifkan dalam urutan terbalik,
dimulai dari yang terakhir digunakan. Proses ini tidak terlihat oleh pengguna,
jadi pengguna tidak perlu mengelola memori atau menonaktifkan aplikasi secara
manual.
[63] Namun, kebingungan pengguna
atas pengelolaan memori pada Android telah menyebabkan munculnya beberapa
aplikasi
task killer pihak ketiga yang populer di Google Play.
[64]
Hingga November 2013, versi terbaru Android membutuhkan setidaknya 512
MB RAM,
[65] prosesor ARMv7 32-bit,
arsitektur MIPS, atau
x86,
[6] serta
unit pemroses
grafis (GPU) kompatibel
OpenGL
ES 2.0.
[66]
Platform perangkat keras utama
pada Android adalah
arsitektur ARM. Ada juga dukungan untuk
x86 dari proyek
Android-x86,
[6] dan
Google TV menggunakan versi x86 khusus Android. Pada
tahun 2013,
Freescale mengumumkan melibatkan Android dalam
prosesor
i.MX buatannya,
yakni seri i.MX5X dan i.MX6X.
[67] Pada 2012, prosesor
Intel juga mulai muncul
pada platform utama Android, misalnya pada telepon seluler.
[68]
Beberapa komponen perangkat keras tidak diperlukan, namun sudah menjadi
standar di perangkat tertentu. Beberapa fitur awalnya dibutuhkan sebagai
persyaratan, namun kemudian ditiadakan. Setelah Android menjadi OS telepon
pintar, beberapa perangkat keras, seperti
mikrofon, lambat laun berubah menjadi perangkat
opsional. Selain itu,
kamera ditetapkan
sebagai perangkat wajib bagi ponsel-ponsel Android.
[69] Perangkat Android
menggabungkan berbagai komponen perangkat keras opsional, termasuk kamera video,
GPS, sensor orientasi
perangkat keras, kontrol permainan, akselerometer, giroskop, barometer,
magnetometer, sensor proksimitas, sensor tekanan, termometer, dan
layar sentuh.
Android mendukung OpenGL ES 1.1, 2.0, dan 3.0. Beberapa aplikasi secara
eksplisit mengharuskan versi tertentu dari OpenGL ES, sehingga perangkat keras
GPU yang cocok diperlukan bagi perangkat Android untuk menjalankan aplikasi
tertentu.
[66]
Android dikembangkan secara pribadi oleh Google sampai perubahan terbaru dan
pembaruan siap untuk dirilis, dan informasi mengenai kode sumber juga mulai
diungkapkan kepada publik.
[70] Kode
sumber ini hanya akan berjalan tanpa modifikasi pada perangkat tertentu,
biasanya pada seri
Nexus.
[71] Ada
binari tersendiri yang
disediakan oleh produsen agar Android bisa beroperasi.
[72]
Logo Android yang berwarna hijau awalnya dirancang untuk Google pada tahun
2007 oleh desainer grafis Irina Blok.
[73][74][75] Tim desain ditugaskan dengan
sebuah proyek untuk membuat sebuah ikon universal yang mudah dikenali dengan
menyertakan ikon
robot secara spesifik
dalam desain akhir. Setelah sejumlah perkembangan desain yang didasarkan pada
tema-tema
fiksi ilmiah dan
film luar angkasa, tim akhirnya mendapat inspirasi dari simbol manusia yang
terdapat di pintu toilet, dan memodifikasi bentuknya menjadi bentuk robot.
Karena Android adalah perangkat lunak
sumber terbuka, disepakati bahwa logo tersebut
juga harus terbuka, dan sejak diluncurkan, logo hijau tersebut telah didesain
ulang kembali dalam berbagai variasi yang tak terhitung jumlahnya.
[76]
Google menyediakan pembaruan utama bagi versi Android, dengan jangka waktu
setiap enam sampai sembilan bulan. Sebagian besar perangkat mampu menerima
pembaruan
melalui udara (OTA).
[77] Pembaruan utama terbaru adalah Android 4.4
KitKat.
[78]
Dibandingkan dengan sistem operasi seluler saingan utamanya, yaitu
iOS, pembaruan Android biasanya lebih lambat
diterima oleh perangkat penggunanya. Untuk perangkat selain merek Nexus,
pembaruan biasanya baru bisa diterima dalam waktu berbulan-bulan setelah
dirilisnya versi resmi.
[79] Hal ini disebabkan oleh banyaknya
variasi
perangkat
keras Android, sehingga setiap pembaruan harus disesuaikan secara khusus,
misalnya: kode sumber resmi Google hanya berjalan pada perangkat
Nexus.
Porting Android pada perangkat keras tertentu yang
dilakukan oleh produsen telepon seluler membutuhkan waktu dan proses, para
produsen ini umumnya mengutamakan perangkat terbaru mereka untuk menerima
pembaruan, dan mengenyampingkan perangkat lama.
[79] Oleh sebab itu, telepon pintar lama
seringkali tidak diperbarui jika produsen memutuskan bahwa itu hanya
menghabiskan waktu, meskipun sebenarnya perangkat tersebut mampu menerima
pembaruan. Masalah ini diperparah ketika produsen menyesuaikan Android dengan
antarmuka dan aplikasi ciptaan mereka, yang mana ini harus diterapkan kembali
untuk setiap perilisan terbaru. Penundaan lainnya juga bisa disebabkan oleh
operator nirkabel; setelah menerima pembaruan dari produsen ponsel, operator
akan menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka, misalnya melakukan pengujian
ekstensif terhadap jaringan sebelum mengirim pembaruan kepada pengguna.
[79]
Kurangnya dukungan pasca-penjualan dari produsen ponsel dan operator telah
menimbulkan kritikan dari para konsumen dan media teknologi.
[80][81] Beberapa pengkritik menyatakan
bahwa industri memiliki motif keuangan untuk tidak memperbarui perangkat mereka,
seperti tidak adanya pembaruan bagi perangkat lama dan memperbarui perangkat
yang baru dengan tujuan meningkatkan penjualan,
[82] sikap yang mereka sebut "menghina".
[81] The Guardian melaporkan bahwa metode pembaruan
yang rumit terjadi karena produsen ponsel dan operator-lah yang telah
merancangnya seperti itu.
[81] Pada 2011, Google, yang
bekerjasama dengan sejumlah perusahaan industri, membentuk "Android Update
Alliance", dengan janji bahwa mereka akan memberikan pembaruan secara tepat
waktu bagi setiap perangkat dalam jangka 18 bulan setelah dirilisnya versi
resmi.
[83] Sejak didirikan hingga tahun 2013,
organisasi ini tak pernah disebut-sebut lagi.
[79] Google kemudian mulai memperbarui
aplikasinya, termasuk
Google
Maps dan
Google Play Music, sebagai aplikasi
independen yang terpisah dari Android, dan juga memperkenalkan komponen
tingkat-sistem yang menyediakan
API bagi aplikasi Google, yang terpasang otomatis dan
diperbarui secara langsung oleh Google melalui
Google Play, serta mendukung hampir semua perangkat
Android dengan versi di atas 2.2.
[84]
Hingga November 2013, Android menggunakan
kernel yang berbasis
kernel Linux versi 3.x (versi
2.6 pada Android 4.0
Ice Cream Sandwich dan pendahulunya).
Peranti tengah,
perpustakaan perangkat lunak, dan
API ditulis dalam
C, dan
perangkat lunak aplikasi berjalan pada
kerangka
kerja aplikasi, termasuk perpustakan kompatibel-Java yang berbasis
Apache Harmony. Android
menggunakan
mesin virtual Dalvik dengan
kompilasi tepat
waktu untuk menjalankan 'dex-code' Dalvik (Dalvik Executable), biasanya
diterjemahkan dari
bytecode
Java.
[85]
Arsitektur kernel Linux pada Android telah diubah oleh Google, berbeda dengan
siklus pengembangan kernel Linux biasa.
[86] Secara
standar, Android tidak memiliki
X Window System asli ataupun dukungan set
lengkap dari perpustakaan
GNU standar. Oleh
sebab itu, sulit untuk mem
porting
perpustakaan atau aplikasi Linux pada Android.
[87] Dukungan untuk aplikasi simpel C dan
SDL
bisa dilakukan dengan cara menginjeksi
shim
Java dan menggunakan
JNI,
[88] misalnya pada port
Jagged
Alliance 2 untuk Android.
[89]
Salah satu fitur yang coba disumbangkan oleh Google untuk kernel Linux adalah
fitur manajemen daya yang disebut "wakelocks", namun fitur ini ditolak oleh
pengembang kernel utama karena mereka merasa bahwa Google tidak menunjukkan
niatnya untuk mengembangkan kodenya sendiri.
[90][91][92] Pada
bulan April 2010, Google mengumumkan bahwa mereka akan menyewa dua karyawan
untuk mengembangkan komunitas kernel Linux,
[93] namun,
Greg
Kroah-Hartman, pengelola kernel Linux versi stabil, menyatakan pada bulan
Desember 2010; ia khawatir bahwa Google tak lagi berusaha untuk mengubah kode
utama Linux.
[91] Beberapa pengembang Android di
Google mengisyaratkan bahwa "tim Android sudah mulai jenuh dengan proses ini",
karena mereka hanyalah tim kecil dan dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang
mendesak demi keberlangsungan Android.
[94]
Pada Agustus 2011,
Linus Torvalds menyatakan: "akhirnya Android dan
Linux akan kembali pada kernel umum, tapi mungkin untuk empat atau lima tahun
kedepan".
[95] Pada
Desember 2011, Greg Kroah-Hartman mengumumkan dimulainya Android Mainlining
Project, yang bertujuan untuk mengembalikan beberapa
pemacu, patch, dan fitur Android pada kernel
Linux, yang dimulai dengan Linux 3.3.
[96] Setelah
upaya sebelumnya gagal, Linux akhirnya menyertakan fitur wakelocks dan autosleep
pada kernel 3.5. Antarmukanya masih sama, namun implementasi Linux yang baru
memiliki dua mode
suspend (penangguhan) berbeda: penangguhan ke
penyimpanan (penangguhan tradisional yang digunakan oleh Android), dan
penangguhan ke cakram (hibernasi, serupa dengan fitur yang ada pada
desktop).
[97]
Penyertaan fitur baru ini akan rampung pada Kernel 3.8, Google telah membuka
repositori kode publik yang berisi karya eksperimental mereka untuk mendesain
ulang Android dengan Kernel 3.8.
[98]
Memori kilat (
flash
storage) pada perangkat Android dibagi menjadi beberapa partisi, misalnya
"/system" untuk sistem operasi, dan "/data" untuk pemasangan aplikasi dan data
pengguna.
[99]
Berbeda dengan distribusi desktop Linux, pemilik perangkat Android tidak
diberikan akses
root pada
sistem operasi, dan partisi sensitif seperti /system bersifat
hanya-baca. Namun, akses root dapat diperoleh dengan cara
memanfaatkan kelemahan keamanan pada Android, cara ini sering digunakan oleh
komunitas sumber terbuka untuk meningkatkan
kinerja perangkat mereka,
[100] namun
juga bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan
virus dan
perangkat
perusak.
[101]
Terkait dengan masalah apakah Android bisa digolongkan ke dalam distribusi
Linux masih diperdebatkan secara luas.
[102] Linux Foundation dan
Chris DiBona,
[103] kepala sumber terbuka Google, mendukung
hal ini. Sedangkan yang lainnya, seperti teknisi Google Patrick Brady,
menentangnya, ia beralasan bahwa Android kurang mendukung sebagian besar
perkakas
GNU, termasuk
glibc.
[104]
Android memiliki komunitas pengembang dan penggemar aktif yang menggunakan
kode sumber Android untuk mengembangkan dan mendistribusikan versi modifikasi
Android buatan mereka.
[105] Komunitas pengembang ini
seringkali memberikan pembaruan dan fitur-fitur baru bagi perangkat lebih cepat
jika dibandingkan dengan produsen/operator, meskipun pembaruan tersebut tidak
menjalani pengujian ekstensif atau tidak memiliki jaminan kualitas.
[22] Mereka berupaya untuk terus
memberikan dukungan bagi perangkat-perangkat lama yang tak lagi menerima
pembaruan resmi, ataupun memodifikasi perangkat Android agar bisa berjalan
dengan menggunakan sistem operasi lain, misalnya
HP TouchPad. Komunitas ini seringkali merilis
pembaruan bagi perangkat pra-
rooted, dan berisi modifikasi yang tidak
cocok bagi pengguna non-teknis, misalnya kemampuan untuk
overclock atau
over/undervolt prosesor
perangkat.
[106] CyanogenMod adalah
perangkat tegar
(
firmware) komunitas yang paling banyak digunakan, dan menjadi dasar bagi
sejumlah
firmware lainnya.
[107]
Secara historis, produsen perangkat dan operator seluler biasanya tidak
mendukung pengembangan
firmware oleh pihak ketiga. Produsen khawatir
bahwa akan muncul fungsi yang tidak sesuai jika perangkat menggunakan
perangkat lunak yang
tidak resmi, sehingga akan menyebabkan munculnya biaya tambahan.
[108] Selain itu,
firmware
modifikasi seperti CyanogenMod kadang-kadang menawarkan fitur yang membuat
operator harus mengeluarkan biaya premium, misalnya
tethering. Akibatnya, kendala teknis
seperti terkuncinya
pengebutan
(
bootloader) dan terbatasnya akses
root umumnya bisa ditemui di
kebanyakan perangkat Android. Namun, perangkat lunak buatan komunitas pengembang
semakin populer, dan setelah Kongres Pustakawan Amerika Serikat mengijinkan "
jailbreaking"
perangkat seluler,
[109]
produsen ponsel dan operator mulai memperlunak sikap mereka terhadap pengembang
pihak ketiga. Beberapa produsen ponsel, termasuk
HTC,
[108] Motorola,
[110] Samsung[111][112] dan
Sony,
[113] mulai memberikan dukungan dan mendorong
pengembangan perangkat lunak pihak ketiga. Sebagai hasilnya, kendala
pembatasan perangkat
keras untuk memasang
perangkat tegar tidak resmi mulai berkurang
secara bertahap setelah meningkatnya jumlah perangkat yang memiliki kemampuan
untuk membuka
bootloader, sama dengan seri ponsel Nexus, meskipun
pengguna harus kehilangan
garansi
perangkat mereka jika melakukannya.
[108] Akan tetapi, meskipun produsen
ponsel telah menyetujui pengembangan perangkat lunak pihak ketiga, beberapa
operator seluler di
Amerika Serikat masih mewajibkan ponsel
penggunanya untuk "dikunci".
[114]
Kemampuan untuk membuka dan meretas sistem pada telepon pintar dan tablet
terus menjadi sumber perdebatan antar komunitas pengembang dan industri;
komunitas beralasan bahwa pengembangan tidak resmi dilakukan karena industri
gagal memberikan pembaruan yang tepat waktu bagi pengguna, atau untuk tetap
melanjutkan dukungan versi terbaru bagi perangkat lama mereka.
[114]
Izin
aplikasi di Play Store
Aplikasi Android berjalan di
sandbox, sebuah area terisolasi
yang tidak memiliki akses pada sistem, kecuali izin akses yang secara eksplisit
diberikan oleh pengguna ketika memasang aplikasi. Sebelum memasang aplikasi,
Play Store akan menampilkan
semua izin yang diperlukan, misalnya: sebuah permainan perlu mengaktifkan
getaran atau menyimpan data pada
Kartu SD, tapi tidak perlu izin untuk
membaca SMS atau mengakses buku telepon. Setelah meninjau izin tersebut,
pengguna dapat memilih untuk menerima atau menolaknya, dan bisa memasang
aplikasi hanya jika mereka menerimanya.
[115]
Sistem
sandbox dan perizinan pada Android bisa mengurangi dampak
kerentanan terhadap
bug pada
aplikasi, namun ketidaktahuan pengembang dan terbatasnya dokumentasi telah
menghasilkan aplikasi yang secara rutin meminta izin yang tidak perlu, sehingga
mengurangi efektivitasnya.
[116] Beberapa perusahaan keamanan
perangkat lunak seperti
Avast,
Lookout Mobile Security,
[117] AVG Technologies,
[118] dan
McAfee,
[119] telah
merilis perangkat lunak antivirus ciptaan mereka untuk perangkat Android.
Perangkat lunak ini sebenarnya tidak bekerja secara efektif karena
sandbox juga bekerja pada aplikasi tersebut, sehingga membatasi
kemampuannya untuk memindai sistem secara lebih mendalam.
[120]
Hasil penelitian perusahaan keamanan
Trend Micro menunjukkan bahwa penyalahgunaan
layanan premium adalah tipe
perangkat perusak (
malware) paling
umum yang menyerang Android; pesan teks akan dikirim dari ponsel yang telah
terinfeksi ke nomor telepon premium tanpa persetujuan atau sepengetahuan
pengguna.
[121]
Perangkat perusak lainnya akan menampilkan iklan yang tidak diinginkan pada
perangkat, atau mengirim informasi pribadi pada pihak ketiga yang tak
berwenang.
[121]
Ancaman keamanan pada Android dilaporkan tumbuh secara bertahap, namun teknisi
di Google menyatakan bahwa perangkat perusak dan ancaman virus pada Android
hanya dibesar-besarkan oleh perusahaan antivirus untuk alasan komersial,
[122][123] dan menuduh industri antivirus
memanfaatkan situasi tersebut untuk menjual produknya kepada pengguna.
[122] Google menegaskan bahwa
keberadaan perangkat perusak berbahaya pada Android sebenarnya sangat
jarang,
[123] dan survei yang dilakukan oleh
F-Secure menunjukkan bahwa hanya 0,5% dari perangkat perusak Android yang
berasal dari Google Play.
[124]
Google baru-baru ini menggunakan pemindai perangkat perusak
Google
Bouncer untuk mengawasi dan memindai aplikasi di Google Play.
[125] Tindakan ini bertujuan untuk menandai
aplikasi yang mencurigakan dan memperingatkan pengguna atas potensi masalah pada
aplikasi sebelum mereka mengunduhnya.
[126]
Android versi 4.2
Jelly Bean dirilis pada tahun 2012 dengan fitur
keamanan yang ditingkatkan, termasuk pemindai perangkat perusak yang disertakan
dalam sistem; pemindai ini tidak hanya memeriksa aplikasi yang dipasang dari
Google Play, namun juga bisa memindai aplikasi yang diunduh dari situs-situs
pihak ketiga. Sistem akan memberikan peringatan yang memberitahukan pengguna
ketika aplikasi mencoba mengirim pesan teks premium, dan memblokir pesan
tersebut, kecuali jika pengguna mengijinkannya.
[127]
Telepon pintar Android memiliki kemampuan untuk melaporkan lokasi titik akses
Wi-Fi, terutama jika pengguna sedang
bepergian, untuk menciptakan basis data yang berisi lokasi fisik dari ratusan
juta titik akses tersebut. Basis data ini membentuk peta elektronik yang bisa
memosisikan lokasi telepon pintar. Hal ini memungkinkan pengguna untuk
menjalankan aplikasi seperti
Foursquare,
Google Latitude,
Facebook Places, dan
untuk mengirimkan iklan berbasis lokasi.
[128]
Beberapa perangkat lunak pemantau pihak ketiga juga bisa mendeteksi saat
informasi pribadi dikirim dari aplikasi ke server jarak jauh.
[129][130] Sifat
sumber terbuka Android memungkinkan perusahaan keamanan untuk menyesuaikan
perangkat dengan penggunaan yang sangat aman. Misalnya, Samsung bekerjasama
dengan General Dynamics melalui proyek "Knox"
Open Kernel Labs.
[131][132]
Pada September 2013, terungkap bahwa badan intelijen Amerika Serikat dan
Britania;
NSA dan
Government Communications
Headquarters (GCHQ), memiliki akses terhadap data pengguna pada perangkat
iPhone,
Blackberry, dan Android. Mereka bisa membaca hampir
keseluruhan informasi pada telepon pintar, termasuk
SMS, lokasi,
surel, dan catatan.
[133]
Izin diperlukan untuk
mengontrol akses aplikasi tertentu terhadap sistem.
Kode sumber untuk Android
tersedia di bawah lisensi
perangkat lunak sumber
terbuka dan bebas. Google menerbitkan sebagian besar kode (termasuk kode
jaringan dan telepon) di bawah
Lisensi Apache versi 2.0.
[134][135][136] Sisanya, perubahan
kernel Linux berada di bawah
GNU General Public License versi 2.
Open Handset
Alliance mengembangkan perubahan kernel Linux dengan kode sumber terbuka
yang dipubikasikan setiap saat. Selebihnya, Android dikembangkan secara pribadi
oleh
Google, dengan kode sumber yang
diterbitkan untuk umum ketika versi baru diluncurkan. Biasanya Google
bekerjasama dengan produsen perangkat keras untuk mengembangkan sebuah perangkat
"andalan" (misalnya seri Google Nexus) yang disertai dengan versi baru Android,
kemudian menerbitkan kode sumbernya setelah perangkat tersebut dirilis.
[137]
Pada awal 2011, Google memilih untuk menahan sementara kode sumber Android
untuk tablet yang dirilis dengan versi 3.0
Honeycomb. Menurut
Andy Rubin dalam sebuah posting
blog resmi Android, alasannya karena
Honeycomb dirilis untuk berjalan
pada produk
Motorola
Xoom,
[138] dan
Google tidak ingin pihak ketiga "memperburuk pengalaman pengguna" dengan mencoba
mengoperasikan versi Android yang ditujukan untuk tablet pada telepon
pintar.
[139] Kode sumber tersebut akhirnya
dipublikasikan pada bulan November 2011 dengan dirilisnya Android 4.0
Ice
Cream Sandwich.
[140]
Meskipun bersifat terbuka, produsen perangkat tidak bisa menggunakan
merek
dagang Android Google seenaknya, kecuali Google menyatakan bahwa perangkat
tersebut sesuai dengan Compatibility Definition Document (CDD) mereka. Perangkat
juga harus memenuhi lisensi persyaratan aplikasi sumber tertutup Google,
termasuk
Google Play.
[141] Richard Stallman dan
Free Software Foundation telah
mengkritik mengenai rumitnya permasalahan merek Android ini, dan
merekomendasikan sistem operasi alternatif seperti
Replicant.
[142][143] Mereka berpendapat bahwa
pemacu peranti dan
perangkat tegar yang
diperlukan untuk mengoperasikan Android bersifat eksklusif, dan Google Play juga
menawarkan perangkat lunak
berbayar.
Android disambut dengan hangat ketika diresmikan pada tahun 2007. Meskipun
para analis terkesan dengan perusahaan teknologi ternama yang bermitra dengan
Google untuk membentuk Open Handset Alliance, masih diragukan apakah para
produsen ponsel akan bersedia mengganti sistem operasinya dengan Android.
[144] Gagasan mengenai sumber terbuka dan
platform pengembangan berbasis Linux
telah menarik minat para pakar teknologi,
[145] tapi
juga muncul kekhawatiran mengenai persaingan ketat yang akan dihadapi Android
dengan pemain mapan di pasar telepon pintar seperti
Nokia dan
Microsoft.
[146] Nokia
menanggapinya dengan menyatakan: "kami tidak melihat ini sebagai ancaman,"
[147] sementara salah satu anggota tim
Windows Mobile Microsoft
menyatakan: "Saya tidak mengerti, dampak apa yang akan mereka hasilkan."
[147]
Android dengan cepat tumbuh menjadi
sistem operasi telepon pintar yang paling banyak
digunakan,
[21]
dan menjadi "salah satu sistem operasi seluler tercepat yang pernah ada."
[148] Para peninjau memuji sifat sumber
terbuka Android sebagai salah satu kekuatan yang menentukan keberhasilannya,
memungkinkan perusahaan-perusahaan seperti Amazon (
Kindle Fire),
Barnes & Noble (
Nook),
Ouya,
Baidu, dan yang lainnya, untuk berbondong-bondong merilis
perangkat lunak dan perangkat keras yang bisa beroperasi pada versi Android.
Alhasil, situs teknologi
Ars
Technica menyebut Android sebagai "sistem operasi standar untuk meluncurkan
perangkat keras baru" bagi perusahaan tanpa harus memiliki platform seluler
sendiri.
[21]
Sifat Android yang terbuka dan fleksibel juga dinikmati oleh pengguna: Android
memungkinkan penggunanya untuk mengkustomisasi perangkatnya secara ekstensif,
dan aplikasi juga tersedia bebas di toko aplikasi non-Google dan di situs-situs
pihak ketiga. Faktor ini menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki oleh ponsel
Android jika dibandingkan dengan ponsel lainnya.
[21][149]
Meskipun Android sangat populer, dengan tingkat aktivasi perangkat tiga kali
lipat lebih tinggi dari
iOS, ada laporan yang
menyatakan bahwa Google belum mampu memanfaatkan produk mereka secara maksimal,
dan layanan web pada akhirnya mengubah Android menjadi penghasil uang, seperti
yang telah diperkirakan oleh para analis sebelumnya.
[150] The Verge berpendapat bahwa Google telah kehilangan
kontrol terhadap Android karena luasnya kustomisasi yang bisa dilakukan oleh
pengembang dan pengguna, juga karena tingginya proliferasi aplikasi dan layanan
non-Google – misalnya Amazon
Kindle Fire mengarahkan pengguna untuk mengunjungi
Amazon app store, yang bersaing langsung dengan Google Play. SVP Google,
Andy Rubin, yang posisinya
sebagai kepala divisi Android digantikan pada bulan Maret 2013, disalahkan
karena gagal dalam membangun kemitraan yang sehat dengan para produsen ponsel.
Pemimpin utama produk-produk Android di pasar global adalah
Samsung; salah satu produknya,
Galaxy, berperan penting
dalam pengenalan merek Android sejak tahun 2011.
[151][152] Sedangkan produsen ponsel Android lainnya
seperti LG, HTC, dan
Motorola Mobility milik Google, telah
berjuang keras untuk memasarkan produknya sejak tahun 2011. Ironisnya, di saat
Google tidak mendapatkan apapun dari hasil penjualan produk Android secara
langsung,
Microsoft dan
Apple malah berhasil memenangkan
gugatan atas pembayaran royalti
paten dari
produsen perangkat Android.
[151]
Android juga dikatakan sangat "terfragmentasi",
[153] yaitu suatu kondisi saat berbagai
perangkat Android, baik dari segi variasi perangkat keras dan perbedaan
perangkat lunak yang berjalan, ditugaskan untuk mengembangkan aplikasi agar bisa
berjalan secara konsisten, lebih rumit jika dibandingkan dengan iOS, yang
aplikasinya kurang bervariasi.
[154]
Sebagai contoh, menurut data
OpenSignal pada Juli 2013, terdapat 11.868 model
perangkat Android dengan berbagai ukuran layar dan versi Android, sedangkan
sebagian besar pengguna iOS menggunakan perangkat iPhone dengan versi
terbaru.
[154][155]
Meskipun sukses di telepon pintar, pengadopsian Android untuk
komputer tablet awalnya
berjalan lambat.
[156] Salah
satu penyebab utamanya adalah adanya situasi yang dikenal dengan "
ayam atau telur", yaitu
kondisi ketika konsumen ragu-ragu untuk membeli tablet Android karena kurangnya
aplikasi tablet yang berkualitas tinggi, sementara di sisi lain, para pengembang
juga ragu-ragu untuk menghabiskan waktu dan sumber daya mereka untuk
mengembangkan aplikasi tablet sampai tersedianya pasar yang signifikan bagi
produk tersebut.
[157][158] Konten dan "ekosistem" aplikasi
terbukti lebih penting jika dibandingkan dengan
spesifikasi
perangkat keras setelah dimulainya penjualan tablet. Karena kurangnya aplikasi
untuk tablet pada 2011, tablet Android awalnya terpaksa harus memasang aplikasi
yang diperuntukkan bagi telepon pintar, sehingga ukuran layarnya tidak cocok
dengan layar tablet yang besar. Selain itu, lambannya pertumbuhan tablet Android
juga disebabkan oleh dominasi
iPad Apple
yang memiliki banyak aplikasi
iOS yang
kompatibel dengan tablet.
[158][159]
Pertumbuhan aplikasi tablet Android perlahan-lahan mulai meningkat, namun, di
saat yang bersamaan, sejumlah besar tablet yang menggunakan sistem operasi lain
seperti
HP TouchPad dan
BlackBerry
PlayBook juga dirilis ke pasaran untuk memanfaatkan keberhasilan iPad.
[158] InfoWorld menjuluki bisnis ini
dengan sebutan "bisnis Frankenphone"; suatu peluang investasi rendah jangka
pendek yang memaksakan penggunaan OS telepon pintar Android yang dioptimalkan
(sebelum Android 3.0
Honeycomb untuk tablet dirilis) pada perangkat
dengan mengabaikan antarmuka pengguna. Pendekatan ini gagal meraih traksi pasar
dengan konsumen serta memperburuk reputasi tablet Android.
[160][161]
Terlebih lagi, beberapa tablet Android seperti
Motorola Xoom dibanderol dengan harga yang sama,
atau lebih mahal dari iPad, yang semakin memperburuk penjualan. Pengecualian ada
pada
Kindle Fire Amazon, yang dijual dengan harga
lebih murah dan kemampuan untuk mengakses konten dan "ekosistem" aplikasi
Amazon.
[158][162]
Hal ini mulai berubah pada tahun 2012 dengan dirilisnya
Nexus 7, dan adanya dorongan dari
Google kepada para pengembang untuk menciptakan aplikasi tablet yang lebih
baik.
[163] Pangsa pasar tablet Android akhirnya
berhasil menyalip iPad pada pertengahan 2012.
[164]
Perusahaan riset Canalys memperkirakan bahwa pada kuartal kedua 2009, Android
memiliki pangsa penjualan telepon pintar sebesar 2,8% di seluruh dunia.
[165] Pada kuartal keempat 2010,
jumlah ini melonjak menjadi 33%, menjadi
platform telepon pintar terlaris di dunia.
[19] Hingga kuartal ketiga 2011,
Gartner memperkirakan lebih dari setengah
(52,5%) pasar telepon pintar global dikuasai oleh Android.
[166] Menurut IDC, pada kuartal ketiga 2012,
Android menguasai 75% pangsa pasar telepon pintar global.
[167]
Pada bulan Juli 2011, Google mengungkapkan bahwa terdapat 550.000 perangkat
Android baru yang diaktifkan setiap harinya,
[168] meningkat dari 400.000 per hari pada
bulan Mei,
[169] dan
secara total, lebih dari 100 juta perangkat Android telah diaktifkan di seluruh
dunia,
[170] dengan pertumbuhan 4,4%
per minggu.
[168]
Pada bulan September 2012, 500 juta perangkat Android telah diaktifkan, dengan
1,3 juta aktivasi per hari.
[171][172] Pada Mei 2013, di
Google I/O, Sundar Pichai
mengumumkan bahwa total perangkat Android yang telah diaktifkan berjumlah 900
juta.
[173]
Pangsa pasar Android bervariasi menurut lokasi. Pada bulan Juli 2012, pangsa
pasar Android di
Amerika
Serikat adalah 52%,
[174] dan
meningkat hingga 90 % di
RRT.
[175]
Selama kuartal ketiga 2012, pangsa pasar telepon pintar Android di seluruh dunia
adalah 75%,
[167]
dengan total perangkat yang diaktifkan berjumlah 750 juta dan 1,5 juta aktivasi
per hari.
[172]
Pada bulan Maret 2013, pangsa Android di pasar telepon pintar global dipimpin
oleh produk-produk Samsung, yakni sebesar 64%. Perusahaan riset pasar, Kantar,
melaporkan bahwa platform besutan Google menyumbang lebih dari 70% dari seluruh
penjualan perangkat telepon pintar di RRT selama periode ini. Masih pada periode
yang sama, tingkat loyalitas terhadap penggunaan produk-produk Samsung di
Inggris (59%) adalah yang tertinggi kedua
setelah Apple (79%).
[23]
Hingga November 2013, pangsa pasar Android dikabarkan telah mencapai 80%.
Dari 261,1 juta telepon pintar yang terjual pada bulan Agustus, September, dan
Oktober 2013, sekitar 211 juta di antaranya adalah perangkat Android.
[176]
Tabel di bawah ini menampilkan data mengenai persentase jumlah perangkat
Android yang mengakses Google Play baru-baru ini, dan menjalankan
platform Android versi tertentu hingga
tanggal
9 September 2014. Android 4.1/4.2/4.3
Jelly Bean
adalah versi Android yang paling banyak digunakan, yakni sekitar 53,7% dari
keseluruhan perangkat Android di seluruh dunia.
[177]
Ada beberapa kekhawatiran mengenai mudahnya aplikasi berbayar Android untuk
dibajak.
[180] Pada bulan Mei 2012,
Eurogamer, pengembang
Football Manager,
menyatakan bahwa rasio pemain bajakan vs pemain asli adalah 9:1 pada permainan
buatan mereka.
[181]
Namun, tidak semua pengembang mempermasalahkan tingkat pembajakan ini; pada Juli
2012, pengembang permainan Wind-up Knight mengungkapkan bahwa tingkat pembajakan
pada permainan mereka hanya 12%, dan sebagian besarnya berasal dari Cina, negara
yang pengguna Androidnya tidak bisa membeli aplikasi dari Google Play.
[182]
Pada 2010, Google merilis sebuah alat yang berfungsi memvalidasi pembelian
resmi untuk digunakan dalam aplikasi, tetapi pengembang mengeluh bahwa hal itu
tidak cukup efisien. Google menjawab bahwa alat tersebut dimaksudkan sebagai
kerangka sampel bagi para pengembang untuk memodifikasi dan mengembangkannya
sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan sebagai solusi untuk mengakhiri
pembajakan.
[183] Pada
tahun 2012, Google merilis sebuah fitur dalam Android 4.1 yang mengenskripsikan
aplikasi berbayar sehingga aplikasi tersebut hanya bisa berjalan pada perangkat
tempat mereka dibeli, namun fitur ini dinonaktifkan untuk sementara karena
masalah teknis.
[184]
Baik Android maupun produsen ponsel Android telah terlibat dalam berbagai
kasus hukum
paten. Pada tanggal 12 Agustus
2010,
Oracle
menggugat Google atas tuduhan pelanggaran hak cipta dan paten yang berhubungan
dengan bahasa pemrograman
Java.
[185] Oracle awalnya menuntut
ganti rugi sebesar $6,1 miliar,
[186] namun
tuntutan ini ditolak oleh pengadilan federal Amerika Serikat, yang meminta
Oracle untuk merevisi gugatannya.
[187]
Sebagai tanggapan, Google mengajukan beberapa pembelaan, mengklaim bahwa Android
tidak melanggar paten atau
hak
cipta Oracle, bahwa paten Oracle tidak valid, dan beberapa pembelaan
lainnya. Pihak Oracle menyatakan bahwa Android berbasis pada
Apache Harmony,
implementasi
clean
room perpustakaan kelas Java, dan secara independen mengembangkan mesin
virtual yang disebut
Dalvik.
[188] Pada bulan Mei 2012, juri dalam kasus ini
menemukan bahwa Google tidak melanggar paten Oracle, dan hakim memutuskan bahwa
struktur API Java yang digunakan oleh Google tidak memiliki hak cipta.
[189][190]
Selain tuntutan secara langsung terhadap Google, berbagai "
perang proksi" juga
dilancarkan terhadap Android secara tidak langsung dengan menargetkan produsen
perangkat Android, dengan tujuan untuk memperkecil peluang produsen tersebut
mengadopsi platform Android dan meningkatkan biaya peluncuran produk Android ke
pasaran.
[191] Apple dan
Microsoft menggugat beberapa produsen perangkat
Android terkait masalah pelanggaran paten; tuntutan Apple yang berkepanjangan
terhadap Samsung menjadi kasus yang sangat terpublikasi. Pada Oktober 2011,
Microsoft mengungkapkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian lisensi
paten dengan sepuluh produsen ponsel yang produk-produknya menguasai 55% pasar
global perangkat Android,
[192] termasuk
Samsung dan
HTC.
[193] Kasus
pelanggaran paten antara Samsung dan Microsoft berakhir dengan kesepakatan bahwa
Samsung akan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan dan
memasarkan ponsel dengan sistem operasi
Windows Phone besutan Microsoft.
[191]
Google secara terbuka menyatakan kefrustrasiannya dalam menghadapi gugatan
pelanggaran paten di Amerika Serikat, menuduh bahwa Apple, Oracle, dan Microsoft
sedang berupaya untuk melemahkan kedigjayaan Android melalui litigasi paten,
alih-alih berinovasi dan bersaing dengan cara menciptakan produk dan layanan
yang lebih baik.
[194]
Pada 2011-2012, Google membeli
Motorola Mobility seharga $12,5 miliar. Upaya
ini dipandang sebagai langkah pertahanan Google untuk melindungi Android, karena
Motorola Mobility memegang lebih dari 17.000 hak paten.
[195] Pada Desember 2011, Google juga
membeli lebih dari seribu paten dari
IBM.
[196]
Pada 2013, Fairsearch, sebuah organisasi yang didukung oleh Microsoft,
Oracle, dan lainnya, mengajukan keluhan terhadap Android pada
Komisi Eropa, menyatakan
bahwa distribusi perangkat Android yang bebas biaya merupakan bentuk persaingan
harga anti-kompetitif.
Free Software Foundation
Europe, yang didonori Google, membantah tuduhan Fairsearch.
[197]
Sifat Android yang terbuka dan bisa dikustomisasi menyebabkan sistem operasi
ini juga digunakan pada perangkat elektronik lainnya, termasuk laptop dan
netbook,
smartbook,
[198] Smart TV
(
Google TV), dan
kamera (
Nikon
Coolpix S800c dan
Galaxy Camera).
[199][200]
Selain itu, sistem operasi Android juga mengembangkan aplikasinya pada kacamata
pintar (
Google Glass), jam
tangan,
[201] penyuara kuping,
[202] CD mobil dan pemutar
DVD,
[203]
cermin,
[204] pemutar media portabel,
[205] jaringan tetap,
[206] dan
telepon VoIP.
[207] Ouya,
sebuah
konsol
permainan video yang menggunakan sistem operasi Android, menjadi salah satu
produk
Kickstarter yang paling
sukses, didanai sebesar $8,5 juta untuk pengembangannya, yang kemudian diikuti
oleh konsol permainan video berbasis Android lainnya seperti
Project
Shield besutan
Nvidia.
[208][209]
Pada tahun 2011, Google memperkenalkan "Android@Home", teknologi otomatis
baru yang memanfaatkan Android untuk mengontrol beberapa alat-alat rumah tangga
seperti kontak lampu, soket listrik, dan termostat.
[210] Mengontrol lampu dikatakan dapat
dikendalikan dari ponsel atau tablet Android. Pimpinan Android Andy Rubin
menegaskan bahwa "menyalakan dan mematikan lampu bukanlah hal yang baru, Google
berpikir lebih ambisius dan tujuannya adalah untuk menggunakan posisinya sebagai
penyedia jasa
awan
guna membawa produk-produk Google ke rumah pelanggan."
[211]
Pada bulan Agustus 2011, Parrot meluncurkan sistem stereo mobil dengan
platform Android, yang dikenal dengan Asteroid dan dilengkapi dengan perintah
suara.
[212][213] Pada
September 2013, Clarion merilis sistem stereo mobil dengan platform Android yang
lebih maju, yang dikenal dengan AX1 dan Mirage, menggunakan Android 2.3.7 dan
2.2 (Gingerbread) dan dilengkapi dengan navigasi berbasis
GPS, layar 6,5 inci, dan berbagai pilihan untuk
akses data nirkabel.
[214][215]
Berbagai perangkat lainnya, meskipun tidak menggunakan Android, juga
dirancang dengan antarmuka yang berfungsi sebagai pendamping atau pelengkap bagi
perangkat Android, misalnya
SmartWatch Sony atau
Galaxy Gear Samsung